http://www1.adsensecamp.com/show/click.php?sid=mRdDaoNm8jEfHjaXqGsflH3ruphn9bMloL0lNGftgL4%3D&mid=EjaJmS1dntm%2BX72MOzJDBQE8LK%2Fi2T92ec739JbynYU%3D&ogi=r1efHiL667Gw178F%2FwEKiwD6bAvnS98FPQzVjg73xyM%3D&omid=BQd02UEWA%2Fs%3D&chan=WB3ae77b+8A%3D&i=6zepDC1828IRA3NnZPI4x3y5wpnCV3PoyW5ZUNXhvNnNjvvVUPwD4yC5ALPkvmVH&r=S3bVBZ7uC8wCmvRpmt5qgx15VfAQVibWFgEk6cp8ypeT9DR6G2klxBQeXRxSdpEI0ExoTzy48Q%2F%2BY7zpAqYiXA%3D%3D&a=xHMulCJa2UOFnEPfzInWFAfTW4SZZC8wcztg31qspQrmhhJRxvOKbj7L8Xrjcyq4NdhBTaHVaYGQ8JZ5LlQdtXZlYikVkwaBQji7ZbeS7HgSHL5%2FxUQ%2BIk%2FlBGI9VYuZFkkvG4usQIrdUSVoTlbfSQ%3D%3D
Tampilkan postingan dengan label Berita Anak Muda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita Anak Muda. Tampilkan semua postingan

Bertani Menjadi Trend Baru Pemuda Jepang

Kota besar Jepang dengan gedung-gedung pencakar langit dan segala pesonanya perlahan mulai kehilangan daya tariknya. Saat ini, kaum muda Jepang mulai tertarik untuk kembali ke desa.

Bukan tanpa alasan jika kaum muda Jepang yang kebanyakan merupakan karyawan kontrak di kota besar ingin mencoba hidup di desa. Mereka ingin kembali merasakan sentuhan kemanusiaan yang tergerus cepatnya ritme kehidupan perkotaan.

"Saya naik kereta untuk berangkat ke kantor setiap hari dan melihat sendiri bagaimana tidak manusiawinya kelakuan orang-orang setiap paginya," kata Megumi Sakaguchi, seorang karyawan kontrak di Tokyo, seperti dimuat BBC, Senin 28 November 2011.

Mencari ketenangan, dia pun terpikir untuk mencoba profesi petani yang merupakan profesi tradisional warga Jepang secara turun temurun.

Keinginan Megumi dan beberapa orang lainnya untuk merasakan ritme hidup yang lebih pelan di desa rupanya cocok dengan kebutuhan di prefektur Nagano. Dengan banyaknya kaum muda yang mengadu nasib ke kota besar, sawah di prefektur ini kekurangan tenaga penggarap.

Di Negeri Matahari Terbit, rata-rata usia petani adalah 68,5 tahun. "Namun semakin banyak pemuda yang ingin mencoba bertani dan hidup di desa. Kami di prefektur Nagano ingin membantu mereka, karena jadi petani itu tak mudah," kata Naoko Maruyama, seorang pejabat prefektur yang menggunakan situs internet untuk mencari peminat.

Prefektur Nagano yang terkenal dengan ladang stroberi, mentimun, dan padi, menawarkan program menjadi petani pada akhir pekan untuk para pemuda. Disini, mereka memperoleh pelatihan hal-hal yang berkenaan dengan pertanian, berikut dengan prakteknya.

Megumi mengaku pengalaman yang diperolehnya di Nagano berharga, karena ia jadi bisa lebih santai. Ia juga mengaku terkesan dengan keramahan orang-orang desa yang masih saling mengenal tetangganya, berbeda dengan yang dialaminya di Tokyo.

Keramahan desa juga menjadi faktor utama Hitoshi Kajiya meninggalkan pekerjaannya sebagai insinyur di Tokyo. "Saya muak dengan hidup saya di kota, karena hidup saya hanya habis untuk bekerja. Saya ingin berubah. Saya memutuskan untuk jadi petani karena ritme kerjanya lebih pelan namun bisa memuaskan batin saya," kata Hitoshi, yang kini meneruskan pertanian milik Giichi Tanaka di Nagano.
READ MORE » Bertani Menjadi Trend Baru Pemuda Jepang

Sumpah Pemuda di Mata Generasi Muda Saat Ini

Hari ini bangsa Indonesia memperingati Hari Sumpah Pemuda yang ke-83, dimana pada tanggal 28 Oktober 1928, generasi muda saat itu mendeklarasikan diri dalam Satu Tanah Air Indonesia, Satu Bangsa Indonesia dan Satu Bahasa Indonesia.

Dengan dicetuskannya Sumpah Pemuda itu, seluruh organisasi pergerakan yang ada di Tanah Air harus mengacu pada hasil Sumpah Pemuda 1928.

Bagi bangsa Indonesia, Sumpah Pemuda ini juga merupakan entry point menuju pintu gerbang kemerdekaan Indonesia 1945. Sumpah pemuda tersebut telah menjadikan adanya kesamaan keinginan untuk merdeka dari cengkraman penjajah.

Oleh karena itu, sangatlah tepat bahwa Sumpah Pemuda itu menjadi fondasi dasar tercapainya Kemerdekaan Indonesia. Seberapa besarkah kita masih mengingat peristiwa Sumpah Pemuda, khususnya di kalangan generasi muda sekarang?

Mungkin bagi mereka yang sudah dewasa masih mengingat bagaimana cerita perjuangan hingga pahlawan kita bisa melahirkan Hari Sumpah Pemuda. Tidak hanya cerita, di sekolah pun dalam pelajaran sejarah dikupas secara mendalam, bahkan isi dari Sumpah Pemuda itu wajib dihapalkan oleh setiap siswa.

Namun saat ini generasi muda bangsa ini justru melupakan makna Sumpah Pemuda itu. Nilai-nilai persatuan dan kesatuan yang ditunjukkan para pemuda 83 tahun yang lalu sudah tidak tergambarkan saat ini. Aksi tawuran yang sering terjadi banyak melibatkan kalangan generasi muda.

Yang lebih miris lagi, aksi tawuran ini dilakukan oleh kalangan pelajar dan mahasiswa, yang notabene tulang punggung negeri ini. Tidak hanya terjadi di Jakarta, aksi tawuran ini juga terjadi di kota-kota lainnya di Indonesia.

Masyarakat di mana pun sudah pasti gerah melihat aksi tawuran pelajar, mahasiswa, atau siapapun juga. Mahasiswa seharusnya memiliki intelektualitas yang tinggi sehingga tidak perlu menyelesaikan masalah dengan tawuran. Perilaku tawuran mereka itu sama saja berarti mereka mempelajarinya di bangku kuliah selain pengetahuan-pengetahuan yang lain.

Entah apa yang menjadi pemicunya sehingga mereka bisa berbuat seperti itu? Jawabannya memang klise, hal ini akibat dari perkembangan jaman, dan perkembangan jaman itu juga berdampak pada perkembangan pola pikir.

Tapi, apakah pola pikir itu serta merta juga membuat generasi muda di negeri ini melupakan nilai-nilai sejarah? Diyakini generasi muda saat ini banyak yang tidak tahu jika kita menanyakan siapa saja tokoh yang terlibat pada sumpah pemuda 83 tahun yang lalu.

Menyikapi permasalahan ini, sudah selayaknya kita meminta kepada kalangan generasi muda agar nilai-nilai Sumpah Pemuda harus terus dihayati, dalam menghadapi berbagai persoalan nasional maupun internasional.

Sumpah Pemuda diwujudkan untuk menyatukan satu rasa tanggung jawab dan kebersamaan pemuda untuk mewujudkan cita-cita bangsa dan negara.

Oleh karena itu, generasi muda diminta untuk terus memegang kemurnian Sumpah Pemuda sebagai alat pemersatu Bangsa. Di sisi lain, sekolah juga harus ikut bertanggung jawab guna menjaga kemurnian Sumpah Pemuda, dengan mengamalkan sifat cinta Tanah Air.

READ MORE » Sumpah Pemuda di Mata Generasi Muda Saat Ini

Mahasiswa IPB Bikin Mie Instan dari Singkong

Tim mahasiswa Departemen Gizi Masyarakat Fakultas Ekologi Manusia Institut Pertanian Bogor (IPB), menemukan sebuah inovasi produk makanan siap saji yakni mie instan berbasis singkong yang diberi label "Mo Mie".

Menurut keterangan tertulis Humas IPB di Bogor, Minggu (23/10/2011) menyebutkan, Laeli Nur Hasanah, mahasiswa Departemen Gizi Masyarakat Fakultas Ekologi Manusia (FEMA) IPB, bersama empat rekannya melakukan penelitian itu di bawah bimbingan dosen pembimbing Megawati Simanjuntak.

Menurut Laeli Nur Hasanah, "Mo Mie" memiliki beberapa kelebihan dibandingkan dengan mie instan yang lain, yakni karena kandungan protein yang tinggi dan aman dikonsumsi.

Ia menjelaskan, ada tiga jenis produk "Mo Mie" yang ditawarkan yakni kering, spagheti, dan sozzilatos.

Disebutkan pula bahwa makanan ini juga dimaksudkan dalam rangka diversifikasi pangan.

"Mo Mie", kata Laeli, merupakan mie instan yang berbahan baku tepung singkong termodifikasi atau Modified Cassava Flour (Mocaf) dan tepung tempe.

Menurut dia, pemilihan singkong sebagai bahan baku pembuatan "Mo Mie" ini cukup beralasan, mengingat singkong adalah salah satu tanaman pangan yang cukup potensial di Indonesia sebagai sumber karbohidrat, yang produksinya belum optimal karena masih dinilai kurang ekonomis.

Sementara, penambahan tepung tempe sebagai bahan pangan sumber protein, karena kandungan protein pada mie yang dinilai cukup rendah.

Ia mengemukakan bahwa mie instan yang umum dikonsumsi masyarakat biasanya berbahan baku tepung terigu. Penggunaan tepung terigu di Indonesia cukup tinggi dalam pembuatan mie instan.

Hal ini dibuktikan bahwa Indonesia sebagai negara kedua konsumsi mie instan berbasis terigu per tahun terbesar didunia. Padahal tepung terigu di Indonesia diperoleh dengan mengimpor dari luar negeri.

"Oleh karena itu perlu dikembangkan suatu produk pangan baru berbasis singkong untuk meningkatkan nilai ekonomis singkong sebagai salah salah satu alternatif pengganti terigu dan upaya diversifikasi pangan," ucapnya.

READ MORE » Mahasiswa IPB Bikin Mie Instan dari Singkong

Demi Naik Haji, Mahasiswi Ini Menabung Sejak Balita

Putri Sentika jamaah usia 19 tahun
yang menabung sejak balita demi naik haji
MEDAN - Ada hal unik saat Kloter 17 Medan saat masuk asrama haji. Seorang jamaahnya Putri Sentika (19) ternyata sudah mengumpulkan uang untuk berangkat haji sejak usia 1,5 tahun. Tentunya, semua berkat dorongan orangtua yang telah menabung khusus untuknya.

Setelah terus menabung selama 19 tahun, akhirnya Putri diperkenankan untuk berangkat ke Mekkah tahun 2011 ini. Apalagi, dia juga melanjutkan tabungan khusus berhajinya itu dengan uang jajan dan pemberian orangtua.

Dan yang lebih membuat Putri bahagia, dia berangkat haji bersama seluruh keluarganya. Putri merasa nyaman dan sangat berbahagia bisa melengkapi ibadah rukun Islam kelima secara bersamaan. Karena umumnya jamaah calon haji hanya dipanggil secara pribadi oleh Allah.

Perempuan kelahiran 8 Juni 1992 itu mengaku, pada 2008 lalu dia bersama enam anggota keluarganya didaftarkan berangkat haji oleh Ayahnya, Prayitno.

"Alhamdulillah, Allah memanggil kami sekeluarga sekalian dengan nenek dan tante untuk beribadah haji tahun ini,"ujar Putri kepada Tribun, Rabu (19/10/2011) di Asrama Haji Embarkasi Medan.

Putri mengatakan ingin sekali melihat segala kebesaran Allah di tanah suci. Seperti pusat kiblat umat Islam yakni Kabbah, menemukan raudah, mengunjungi makam Rasul, dan tempat-tempat bersejarah lainnya. Namun yang terutama beribadah dan menyerahkan diri secara penuh di rumah Allah.

Mahasiswi Fakultas Ekonomi semester III ini telah memohon ijin selama 40 hari untuk fokus ibadah di Mekkah. Tetapi teman-teman di kampusnya tak lupa menitipkan doa agar dibacakan sesampainya di Mekkah.

"Lumayan banyaklah yang mengirimkan doa, umumnya memohon mendapat panggilan Allah agar berhasil memijakkan kaki di tanah Arab,"ucap anak Prayitno dan Nurhamidah.

Kemudian Putri juga akan bermohon, agar Allah SWT memberi kesehatan dan rejeki serta kemudahan dalam menjalani hidup di dunia. Dan mendapatkan keberkahan akhirat, sehingga pintu surga terbuka lebar untuknya dan keluarga besar.

READ MORE » Demi Naik Haji, Mahasiswi Ini Menabung Sejak Balita

Curhat ke Teman Tindakan Sia-sia

London – Tiap orang pasti pernah merasa sangat kecewa dan tertekan. Namun menurut ilmuwan, mencurahkan (curhat) rasa tak menyenangkan merupakan hal tak baik dilakukan.

Menurut ilmuwan, gantinya, lebih baik ‘menilai positif’ penyebab tekanan dengan menerimanya dan humor. Hal ini diyakini ilmuwan sebagai strategi paling efektif mengatasi kegagalan yang terjadi pada saat ini.

Kesimpulan ini diperoleh peneliti University of Kent setelah meneliti 149 mahasiswa yang diminta menulis catatan harian selama 3-14 hari. Tiap hari, partisipan diminta menulis detail kegagalan yang paling mengganggu, strategi untuk mengatasinya dan perasaan mereka di akhir hari.

Sejumlah strategi yang digunakan berdasar buku harian itu antara lain, menggunakan emosi atau dukungan instrumental, pengalihan diri, penolakan, agama, curhat, penggunaan zat kimia, menyalahkan diri dan perilaku pelepasan.

Dari strategi yang ditemukan, dukungan sosial, penolakan, curhat, perilaku pelepasan dan menyalahkan diri berakibat negatif pada kepuasan di akhir hari. Sebaliknya, mereka yang mengatasi masalahnya sendiri, menerima dan humor memiliki dampak positif pada kepuasan.

"Tak ada gunanya mempermasalahkan hal kecil dan membawa Anda mundur serta menyeret Anda lebih terpuruk lagi," papar peneliti Dr Joachim Stoeber seperti dilaporkan Dailymail.

“Sebaiknya menerima apa yang terjadi, cari aspek positifnya, dan tertawakan hal itu,” tutupnya. Hasil studi ini diterbitkan di jurnal Anxiety, Stress & Coping.

READ MORE » Curhat ke Teman Tindakan Sia-sia

1 Dari 2 Pria Masa Kini Kawin Demi Harta

Wanita yang haus harta kekayaan dan rela menikahi pria demi uang mungkin sudah hal yang dianggap lumrah. Tapi tahukah Anda bahwa kebanyakan pria zaman sekarang ternyata juga memiliki pikiran yang sama. Mereka berharap dengan menikahi perempuan kaya, hidup mereka bakal terjamin secara finansial.

Kecenderungan itu terungkap dari sebuah survei perusahaan asuransi di Inggris. Penelitian itu menyimpulkan satu dari dua pria mengaku siap menikahi seorang wanita hanya demi uang. Mereka tidak peduli apakah wanita itu sudah tua, jelek, atau seorang yang membosankan.

Seperti dikutip Mirror, para ahli mengatakan banyaknya pria yang bermimpi menjadi orang kaya akibat kesulitan dan krisis ekonomi, serta ada makin banyak wanita karir yang berpenghasilan tinggi.

Meski demikian, cilakanya, survei ini juga menunjukkan para wanita kini lebih berhati-hati memilih calon suami. Sebanyak 29 persen wanita mengatakan mereka akan mempertimbangkan berbagai hal terlebih dahulu sebelum memutuskan menikah karena khawatir calon suami mereka bakal jadi 'benalu' dalam kehidupan rumah tangganya. Karena itu, mereka mengaku bersikap lebih waspada saat menandatangani perjanjian pranikah dengan calon suami.

Sebanyak 14 persen wanita juga menyatakan bahwa kontrak perjanjian pranikah penting dibuat untuk mengatur pembagian saat terjadi perceraian. Hanya sebanyak 24 persen responden wanita yang menganggap perjanjian pranikah tidaklah romantis.

Psikolog Beverley Stone mengatakan, "Pria kini menikah dengan pikiran dan logika bukannya dengan hati mereka." Menurut Stone, telah terjadi perubahan mencolok menyangkut peran dan harapan kaum Adam. Pria saat ini lebih cenderung mencari pasangan kaya yang bisa menjanjikan jaminan keuangan untuk mereka.

Penelitian ini dilakukan oleh perusahaan asuransi More Than, dengan metode jajak pendapat. Tak lupa, perusahaan asuransi menyisipkan pesan sponsor: sangatlah penting untuk melindungi keuangan, sebelum menikah. (kd)


READ MORE » 1 Dari 2 Pria Masa Kini Kawin Demi Harta